hanya sebuah tulisan tentang novel Amelia si Anak Kuat

 ---mengenai tulisanku soal Amelia ini, kuharap kamu tidak terlalu banyak mendapatkan spoiler rinci bagaimana kisahnya berlangsung hingga berakhir, karena menurutku kamu perlu untuk bertualang sendiri bersama Amelia, kujamin akan seru----

by the way, sudah lama sekali tidak menghabiskan waktu berjam-jam berkutat dengan ratusan halaman, sambil membayangkan setiap detail kejadian seakan ada disana mengamati secara langsung.

buku ini kubeli tahun lalu, dan seperti kebiasaan beberapa pembaca, buku dibeli lalu tersimpan rapi di rak tanpa sempat menyelesaikannya, hehe.

serial anak-anak mamak merupakan salah satu novel ber-seri karya Tere Liye. 

4 orang saudara yang menceritakan kisah mereka masing-masing dalam setiap novelnya.

Burlian Si Anak Spesial, Pukat Si Anak Pintar, Eliana Si Anak Pemberani, dan Amelia Si Anak Kuat. 

(sebenarnya, kalau kamu tau, masih ada serial 'si anak....' yang lainnya pada serial anak nusantara. belum tahu itu kisah siapa, mungkin teman-teman mereka)

Baru 1 novel yg kumiliki dari 4 novel itu, baru 1 kisah yang kubaca, yaitu kisah Amelia.

Amelia, sehari-hari dipanggil Amel, kecuali saat sedang serius dia akan dipanggil lengkap Amelia, misalnya saat mamak sedang marah. 

Amelia yang memiliki keteguhan hati yang besar untuk berdamai dengan semua kemelut mimpi yang dimilikinya. Di usia yang bahkan belum menginjak remaja, Amelia memiliki kepedulian yang besar karena ia sangat mencintai kampungnya. 

Di beberapa halaman, cerita Amel berhasil membuatku larut dalam perasaan yang ia rasakan, menumpahkannya lewat air mata. Tapi tenang saja, tertawanya lebih banyak. Obrolan anak-anak lugu yang saling melempar kata dan tanya entah mengapa sangat terasa jenaka.

Kisah Amel yang kukira hanya akan terbatas pada persoalan keluarga dan posisinya sebagai anak bungsu, atau bahkan soal teman lelakinya yang terkenal nakal itu, tetapi ternyata Amel punya kisah yang jauh lebih besar. Cita-cita yang besar untuk kampungnya, di usianya yang sangat kecil.

Membaca kisah Amel membuatku belajar, bahwa menjadi anak kuat bukan berarti tidak pernah merasakan sedih, kecewa dan marah. Amel menjadi kuat karena ia memiliki hati yang teguh dan peduli. Karena peduli adalah energi terbaik yang bisa dimiliki oleh seseorang. Ia teguh melewati sebanyak apapun persoalannya, serumit apapun perkara orang dewasa yang sulit dimengerti. Dan yang paling penting, pada bagian terakhir kisah Amelia, mengingatkanku bahwa ilmu pengetahuan yang dibagikan dengan tulus akan berbuah subur dan lebat, membawa perubahan yang baik, yang bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya. 

Amelia yang kuat, hatinya lapang, ia pergi sejauh mungkin, mengambil ilmu di setiap kesempatan, tapi tidak pernah lupa untuk pulang ke rumah ♡

terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini, kalau-kalau kamu juga ingin membaca kisah Amelia.

Comments

Popular posts from this blog

sulung