Garis Mimpi

 

Hari ini menemukan satu postingan tentang seorang wanita yang sangat berprestasi. Menjadi seorang ibu, seorang dokter, pendiri start-up, bahkan sedang berkuliah juga. Tak main-main, beliau sedang berkuliah di The John Hopkins University. Membuatku langsung teringat pada sebuah film biografi yang terkenal, tentang seorang dokter yang berhasil melakukan operasi kembar siam pertama yang memisahkan bagian kepala. Itu terjadi di The John Hopkins Hospital.

                Setiap kali mendengar atau membaca kisah seorang yang berprestasi, ada rasa haru serta bangga, juga seperti tak habis pikir seperti, “Kok bisa ya orang se sibuk itu”. Kemudian berkaca pada diriku yang jika kubandingkan kesibukanku dengan mereka, tak ada apa-apanya. Namun ku hitung-hitung mengeluhku sepertinya lebih dari cukup jika ia menjelma sebagai air yang mengisi penuh satu bak mandi besar. Meskipun aku yakin bahwa mereka-mereka yang se sibuk itu pun pasti sering kali mengeluh dan memiliki rasa lelah yang lebih dari pada yang ku rasakan.

                Tak hanya haru dan bangga, dibalik rasa kagumku acap kali terbersit rasa kecewa. Kecewa pada diri sendiri. Atau jika kukatakan dengan bahasa yang lebih kasar, mungkin aku menyebutnya perasaan iri. Iri dengan kesempatan yang mereka dapatkan, dengan semua peluang yang mereka raih tanpa usaha se keras yang orang lain lakukan. “Tapi memangnya kau tau apa soal usaha mereka?”. Ya.. benar juga sih. Aku mungkin tak tahu kalau mereka hanya tidur 2-3 jam per hari, tidak bisa rebahan sambil marathon netflix sepertiku, beban pikiran yang rasanya mau buat kepala meledak, menangis di tiap malamnya. Aku mungkin tak tahu itu.

                Lantas aku tersadar bahwa semua pilihan yang mereka ambil memiliki pengorbanannya masing-masing. Mereka memilih untuk se sibuk itu, berarti ada hal yang harus dikorbankan sehingga tidak lagi memiliki waktu untuknya. Ada lebih banyak lelah yang harus dirasakan. Ada lebih banyak juang yang harus ditorehkan.

                Selama menulis ini, pikiranku sangat berisik. Seakan memiliki banyak sekali kata yang antre untuk dituangkan dalam tulisan. Berbicara pada diri sendiri, memikirkan banyak hal tentang diri sendiri, membayangkan apakah suatu saat ada seseorang yang menjadikanku kalimat pembuka dalam tulisannya, lalu mengatakan bahwa ia ikut bangga padaku. Tapi aku tak ingin jika ia iri denganku. Aku mau mengatakan padanya bahwa waktu setiap orang itu berbeda. Tidak perlu berlari pada start yang sama. Lagipula, hidup ini bukan perlombaan lari. Kalian sedang berlomba dengan siapa, memangnya? Setiap orang hanya berjalan. Berjalan pada garis yang berbeda. Bisa juga sih garisnya sama, tapi siapa yang menjamin semua orang yang berjalan pada garis yang sama akan menemukan finish yang sama pula.

                Setiap manusia berjalan di garis mimpinya masing-masing. Semua ada waktunya, semua ada masanya. Tak perlu buru-buru, kita tidak sedang berlomba.

 

Terima kasih untuk setiap kisah yang menginspirasi.

Semoga aku juga mampu menginspirasi orang lain, pada waktu dan garis mimpiku sendiri.  

               

 

Comments

Popular posts from this blog

hanya sebuah tulisan tentang novel Amelia si Anak Kuat

sulung